Tampilkan postingan dengan label Akuntansi Jiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akuntansi Jiwa. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 September 2014

Akhir dari Pencarian

Landasan Akuntansi dalam Al-Qur'an, Surat Al-Baqarah ayat 282, angka ayat ini menyimpan berbagai makna dan hakikatnya.

282

apa penafsiran dan makna yang tersirat....?????

Persamaan akuntansi, dimana Asset = Liabilitas + Ekuitas, dimisalkan Liabilitas 1 (satu) dan Ekuitas 2 (dua) maka jumlah Asset menjadi 3 (tiga) sehingga pesamaan akuntansi menjadi

3 = 1 + 2

3 = 3

1

apa penafsiran dan makna yang tersirat....?????

Sementara itu bagi ekonom persamaan permintaan dan penawaran (D & S) adalah D = S, Demand dan Supply harus sama agar terjadi keseimbangan, sehingga jika dimisalkan permintaan 3 (tiga) maka untuk terjadi keseimbangan penawaran harus 3 (tiga), sehingga menghasilkan:

D = S

3  = 3

1

apa penafsiran dan makna yang tersirat....?????

Dan jika diperhatikan persamaan cash in flow dan  cash out flow, maka orang manajemen membuat persamaannya sebagai berikut, Cash In Flow = Cash Out Flow, sehingga jika diasumsikan cash in flow 3 (tiga) maka untuk menghasilkan arus kas yang seimbang maka cash out flow juga haru 3 (tiga), sehingga persmaannya dapat terbentuk :

Cash in Flow = Cash out Flow

3 = 3

1

apa penafsiran dan makna yang tersirat....?????

Nah begitu juga dengan persamaan - persamaan di bidang Ilmu lainnya, semuanya pasti menghasilkan angka 1 (satu).

...........lalu dengan demikian masih pantaskah engkau berpaling dari-Nya....?????

Jumat, 16 Mei 2014

mencari apa yang seharusnya dicari

mencari apa yang seharusnya dicari

seorang akuntan sibuk dengan kerjanya, yang akhir-akhir kerjanya menyeimbangkan debet dan kredit atau aset sama dengan kewajiban ditambah ekuitas, ketika semuanya seimbang atau balance, kenapa penting keseimbangan dalam kehidupan..??, misalnya ketika tubuh tidak seimbang maka akan timbul kegoyangan atau tubuh tidak stabil sehingga akan berdampak tidak kuat ketika kita berdiri,...............

bersambung.......

depresiasi jiwa - raga

     Pernahkan anda bertanya pada diri anda sendiri..??, atau pernahkah anda merenung tentang umur ekonomis hidup anda, kemudian pernahkan anda melakukan estimasi, kira-kira berapa umur/usia ekonomis hidup anda, anda mugkin akan menjawab, ah mana mungkin bisa, umur itu kan Tuhan yang mengatur, sebagai insan yang dikasih akal oleh Tuhan, tentunya anda dapat menganalogikan, ketika anda mempunyai aset/harta, kemudian anda diminta untuk melakukan estimasi terhadap umur ekonomis aset tersebut, langkah yang akan anda lakukan adalah dengan membandingkan dengan aset-aset sebelumnya yang sama, kemudia setelah dibandingkan, dapat ditaksir umur ekonomisnya, begitu juga dengan umur kita, apakah kita tidak pernah membandingkan dengan kakek atau nenek, ayah atau ibu kita, atau dari keluarga keturunan anda, berapa usia jatah rata-rata hidup mereka?, jika itu pernah dilakukan maka dengan sendirinya akan sadar dan menyadari, ah ternyata umur ekonomis hidup dapat ditaksir, ternyata umur ekonomisnya akan segera berakhir atau habis.
  Seiring dengan akan habisnya umur ekonomis anda dalam hal ini jatah hidup, tentu kita akan berfikir, selama ini apakah kita pernah melakukan depresiasi/penyusutan terhadap diri anda atas umur ekonomis yang sudah anda pakai?, kemudian metode penyusutan apa yang anda gunakan untuk menghitungnya, tentunya ini perlu pemikiran yang cerdas, karena depresiasi yang anda lakukan terhadap diri anda, nantinya akan merupakan akumulasi-akumulasi kebaikkan yang anda lakukan, selama usia ekonomis anda diatas dunia.